Tuesday, May 3, 2011

The Generous Patients

Hari ini hari kedua clerkship di bagian interna dan paru. Hari pertama kemarin hanya dilewati dengan teoritis dan melihat contoh kasus pada pasien nyata, jadi aku sedikit berharap semoga hari ini bisa melakukan pemeriksaan fisik ke pasien, setelah bertahun-tahun hanya belajar ke pasien "bohongan" yaitu kakak kelas atau staff yang berpura-pura jadi pasien. Tentu hasil pemeriksaan yang ditemukan akan beda dengan seandainya yang diperiksa itu pasien sungguhan.

Paginya diawali dengan kuliah singkat tentang anamnesis, lalu kita dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing 3 orang, dan diperbolehkan melakukan anamnesa ke beberapa pasien yang ada di ruang interna wanita. Agak kecewa karena dosen pembimbing kami tidak memperbolehkan kita melakukan pemeriksaan fisik kepada pasien. Alasannya masuk akal sih, pasien sudah terlalu banyak di-"jamah" oleh tenaga medis dan calon tenaga medis yang ada di situ, sebut saja para dm/co-ass, ppds, mahasiswa perawat, perawat, dokter yg bertugas, dsb dsbnya. Terbayang kalau aku yang harus berkali-kali diwawancara tentang penyakitku, ditanya hal-hal yang sama terus, dipegang-pegang dan diliatin padahal sedang mau istirahat dan bosan juga pastinya. Iya juga ya.

Lalu kami ke bangsal interna wanita. Kelompok 1 mendapatkan pasien seorang wanita lanjut usia yang perutnya membesar. Kelompok 2, seorang dengan kaki yang membengkak dan napas pendek-pendek. Kelompok 3, yaitu kelompokku, dengan wanita yang badannya kekuningan, dan kelompok 4 dengan seorang wanita yang (katanya) anemia.

Sebelum memulai anamnesis kelompok, dokter pembombing kami meminta ijin kepada tiap pasien, bahwa kami akan menanya-nanyai mereka, dan apakah mereka keberatan atau tidak. Tiap pasien ternyata setuju dan dengan baik hati mau menjawab pertanyaan kami yang sering kali berbelit-belit, diulang-ulang, bahasanya mbulet, dan mungkin sedikit membingungkan. Yah namanya juga belajar, dan grogi juga sih. Pasien-pasien ini lah yang pasti pahalanya begitu besar kelak, karena kesabaran mereka.

Setelah itu, kami istirahat selama 30 menit lalu lanjut ke bagian paru. Setelah kemarin hanya diceramahi dan kuliah singkat, aku sedikit pesimis dengan materi yang akan aku dapat hari ini. Memang, ruangan tempat kami diberi pengarahan paru itu nyaman sekali, kursinya empuk, adem karena ber-AC pula, tapi dasar namanya rajin (:p) keinginan utk berkeliling dan ke pasien yang beneran masih membara.

Kami akhirnya berlatih pemeriksaan fisik dengan "pasien" seorang karyawan di departemen tersebut yang sudah sedari dulu membantu para clerk di sana -- sejak tahun 1972, katanya. Wow. Bayangkan berapa ratus dokter yang sudah memperoleh ilmu langsung dari sang Bapak, tidak dengan kata-kata saja, tapi dengan tubuhnya sendiri.

Ternyata dokter pembimbing kami harus menghadiri acara lain yang mendadak, jadi kami akan dibimbing oleh seorang dokter pengganti. Dokter pengganti ini sering memberikan pertanyaan, tapi juga tidak bereaksi lebay saat kita menjawab salah, melainkan menjelaskan satu-persatu sampai detail. Dan ternyata kami dibolehkan untuk memeriksa pasien setelah sesi kuis itu! I was so excited!

Kami ke bagian paru, dari pintunya saja sudah tertempel poster tentang keharusan memakai masker bagi yg sakit atau yg akan mengunjungi orang sakit, hand-sanitizer pun lebih mudah dijumpai menempel di tembok-tembok bangsal paru pria ini. Beberapa orang batuk-batuk dengan kerasnya dan banyak yang memakai masker. Pada saat itu di bangsal tersebut ada pasien yang baru saja meninggal dunia. Mungkin karena suasana yang seperti itu, seorang teman kelompokku berkata "rasanya hampir semacam merinding di sini."
Kami dibagi menjadi 2 kelompok, kelompokku akan memeriksa seorang pasien pria yang terlihat kurus dan lemah. Lagi-lagi, aku sangat bersyukur pria ini menyatakan mau diperiksa oleh kami dan berkenan menjawab pertanyaan kami, walaupun itu mungkin tidak nyaman baginya.

Singkat cerita, dari pasien ini aku bisa menemukan sendiri tanda-tanda penyakit yang selama ini cuma bisa kubaca di buku. Fremitus vokal menurun, pengembangan paru tidak simetris, bronchofoni positif, dsbnya.
Tanpa Bapak ini, mungkin semua itu hanya ada di awang-awangku saja sekarang.

Hari ini aku belajar, bahwa bukan dokter dengan jas putih dan tampang pintar yang harus dihormati, melainkan para pasien ini. Mereka yang sering tampil apa adanya, bukan pada saat tercakep/terklimis/tersehat mereka, tapi berkenan memberikan ilmu yang berharga kepada para calon dokter. Ilmu dari mereka lah yang akan membantu para calon tenaga kesehatan untuk mengobati orang-orang sakit berikutnya. Jadi kesembuhan pasien di masa depan bergantung dari kedermawanan para pasien di masa-masa sebelumnya.

By now, I'll proudly say that these patients are my greatest teacher. There will be no greatest way to show my gratitude except by always giving my best to be a good doctor.

Ih, amit-amit deh kalau ntar jadi dokter yang money-oriented. Bisa malu para guruku ini natinya.
BlogBooster-The most productive way for mobile blogging. BlogBooster is a multi-service blog editor for iPhone, Android, WebOs and your desktop

No comments:

Post a Comment